Edyan! Declan Rice Lebih Kreatif dari Dua Legenda Liga Inggris – Sepanjang mana Declan dapat melangkah di dunia sepak bola? Serta jenis pemain semacam apa yang hendak dia wujud di masa depan? Bisakah ia menjajaki jejak Yaya serta Gerrard jadi legenda gelandang terbaik ?
Gelandang timnas Inggris ini tampak luar biasa pada Rabu malam dikala Arsenal menghilangkan Real Madrid di Santiago Bernabeu buat mengamankan tempat di semifinal Liga Champions UEFA.
Rice mengantongi 2 penghargaan di babak gugur Liga Champions. Bila penampilan gemilang Bukayo Saka di Bernabeu disebut- sebut selaku pembuktian dirinya selaku pemain kelas dunia, hingga Declan Rice juga lagi mengarah status yang sama.
Dari 2 berhasil tendangan leluasa luar umumnya di leg awal, sampai performa dominan penuh tenaga di leg kedua yang membenarkan Arsenal lolos ke semifinal, Rice betul- betul menampilkan kedewasaannya di panggung terbanyak.
Dari Gelandang Bertahan Jadi Motor Serangan
Di umur 26 tahun, Rice memanglah baru bermain 21 pertandingan Liga Champions, tetapi dia dengan kilat menjadikan edisi masa ini selaku panggungnya dikala Arsenal membidik final Liga Champions awal mereka semenjak 2006— yang pula baru hendak jadi final kedua The Gunners selama sejarah.
Rice sempat mengangkut trofi Eropa bersama West Ham. Tetapi ini jelas tingkat yang berbeda. Kami menelusuri kembali gimana Rice berevolusi dalam 3 tahun terakhir— serta apakah dia dapat menjajaki jejak 2 idolanya di lini tengah.
David Moyes biasa menempatkannya selaku salah satu dari 2 gelandang bertahan, Sedangkan para pemain semacam Lucas Paqueta, Jarrod Bowen, serta Pablo Fornals bertugas lebih ke depan.
Rice awalnya bermain di posisi selaku pivot tunggal, Mikel Arteta memandang suatu yang lebih dari Rice serta merasa kualitasnya hendak lebih optimal bila bermain lebih ke depan.
Berdialog di akhir 2023, Arteta berkata,
“ Ia[Rice] memiliki naluri mencetak berhasil dikala terletak di kotak penalti lawan. Itu dapat terus dibesarkan. Kepemimpinannya pula hendak tumbuh bersamaan waktu di klub. Aku suka kehadirannya di lapangan, ia memiliki suatu yang istimewa. Bermain selaku Nomor. 8, ia dapat jadi pemain luar biasa.”
Bermain di posisi Nomor 8, berdampingan dengan Odegaard, Rice menciptakan rumahnya di Arsenal. Bila memandang peta sentuhannya sepanjang 3 masa terakhir di Premier League, pergantian ini sangat jelas.
Peningkatan signifikan di seluruh jenis ini meyakinkan kalau Rice saat ini bukan cuma vital secara defensif, namun pula ofensif— buatnya mulai dibanding dengan para gelandang legendaris yang sepanjang ini jadi panutannya.
Menjajaki Jejak Toure serta Gerrard
Apa yang hendak terjalin berikutnya untuk Rice? Apakah dia dapat bermain lebih ke depan lagi, di posisi Nomor. 10? Dengan mutu all- round yang dipunyai, ditambah kemampuannya selaku eksekutor bola mati yang saat ini bertugas mengambil sebagian besar tendangan leluasa serta sepak pojok Arsenal, Rice mulai nampak melaksanakan segalanya.
Perihal ini tidak mengejutkan bila mengingat salah satu idolanya merupakan Yaya Toure. Rice pula sempat berkata kalau dia mau sekali bermain bersama Steven Gerrard.
“ Salah satu idola aku,” kata Rice soal Toure dikala berjumpa dengannya pada 2022.
“ Aku betul- betul banyak meniru permainannya.”
Semacam Rice, baik Toure ataupun Gerrard pula pernah berpindah posisi di lini tengah selama karier mereka. Tetapi, arah karier keduanya berbeda— Gerrard terus menjadi ke balik dikala di Liverpool, sedangkan Toure yang dahulu berfungsi selaku gelandang bertahan di Barcelona apalagi sempat main di posisi bek, kemudian malah kian dekat ke gawang lawan dikala membela Manchester City.
Walaupun jumlah berhasil Rice masih jauh tertinggal, jumlah kesempatan yang dia mengadakan mulai menyerupai apalagi melebihi keduanya. Ini jadi sinyal kalau Rice lebih menuju ke kreator game dibanding pencetak berhasil murni, walaupun masa kemudian dia pernah mencetak 7 berhasil di Premier League.
Lebih dari semata- mata angka, Rice saat ini mulai diketahui selaku pemain yang dapat mengganti jalannya pertandingan— sebagaimana diungkapkan Mikel Arteta usai kemenangan atas Real Madrid.
“ Malam ini ia luar biasa. Ia mengganti pertandingan. Dikala laga masih 50/ 50, ia ambil alih serta membalikkan kondisi. Ia tampak sangat luar biasa.
Bila memandang pencapaian Yaya Toure— 5 gelar liga, satu Liga Champions, serta satu Piala Afrika— dan Steven Gerrard— satu Liga Champions, satu UEFA Cup, serta 5 trofi dalam negeri— mungkinkah Rice dapat melampaui itu di paruh kedua kariernya?
